Ichi ocha

Dia adalah kado, teman, apapun itu. Yang tanpanya adalah suatu ke-abnormal-an. Karena selain pada-Nya, aku selalu menyandar padanya :( Kasian tapi empuk 😂 (13 Juli 2021)

image
6 notes

Hari ini aku ingin menulis yang banyak di laman ini. Taman. Pekarangan. Halaman. Teras. Apa saja sebutannya untuk menjadi baskom perasaanku. Aku yakin Tuhan pun ikut membacanya.

Perkara apakah nanti aku akan kembali atau tidak. Aku tidak tahu.

Rasanya terlalu lama aku meninggalkan pekarangan rasa ini. Semak belukar dan segala macam semak tumbuh subur. Hingga aku lupa bagaimana jejak kakiku berada di atas lahan ini.

Tuhan, aku titip imanku. Dia yang lemah ini memohon kekuatan. Kekuatan untuk selalu diteguhkan dalam jalan-Mu. Kekuatan untuk selalu percaya takdir dan pilihanmu. Kekuatan untuk berdoa. Kekuatan untuk tetap bertahan kuat dan teguh. Sebab pagarku kadang rapuh, kadang setegar karang. Namun lebih sering seperti pasir di atas batu yang disiram hujan. Habis.

Maka itu, Tuhan… Buat aku selalu memohon dan berdoa pada-Mu. Sebab hal termudah untuk mencintai-Mu dengan berdoa pada-Mu saja aku sering dan selalu lalai. Ampuni aku Tuhan… Yang selalu menemaniku padahal Engkau, tetapi mengapa yang selalu kuharap saat sedih untuk ada, seringkali kuharap dia juga ada di sisiku.

:(

0 notes
Pilihan

Jika aku harus memilih. Aku memilih untuk diteguhkan dalam kebaikan, kebiasaan yang membawa berkah. Hati yang jernih tanpa dengki. Bibir yang rapat tanpa mengumbar aib.

Jika bisa memaksa. Aku ingin ada dalam keteguhan. Ketulusan. Kemandirian.

Hidup yang terjal akan tetap aman. Selama keteguhan, ketulusan, kemandirian kulabuhkan di atas punggung. Tentu saja juga dengan doa dan menjadi hamba-Nya.

0 notes
Selisih Rasa

Tahukah kamu, wahai diriku di masa lalu. Ternyata dicintai dan mencintai dalam ketidaksiapan sangatlah melelahkan. Memang semua yang datang saat belum bersiap akan terasa gamang.


Seperti saat ini.


Mencintai dan dicintai, tetapi kami tak siap. (Tersenyum). Kalau dulu kau begitu mendamba seseorang yang bisa mencintaimu. Kini doaku ialah dicintai oleh seseorang yang siap mencintaiku, lahir batin.


Tak sekadar hasrat semata.


Hei, tertawa sedikit tak apa. Menertawakan keadaan ini tak berdosa untukmu. Benarkah itu? Sungguh banyak “kalau” yang ini dan “kalau” yang itu.


Hei, mari kita menarik napas sejenak. Sejeda hempasan hujan pada tanah. Perlahan tapi pasti.


Yang tabah, ya. Aku. Aku hanya ingin kamu selamat dari dunia dan akhirat kelak. Jangan lupa berdoa ya.


:)

0 notes

Hai aku, 2021.

Sudah lama sekali rasanya aku menyapa laman ini.

Kapan ya terkahir kali aku curahkan isi hati berbalut diksi rapi. (Ya walau mungkin masih belum rapi).

Hai aku di tahun 2020, 2019, 2018, dan sebelum-sebelumnya. Alhamdulillah hari ini aku lebih sehat dari hari kemarin, meskipun batuk (masuk angin) masih menyapa terkadang.

Hai, rindu aku? Aku rindu menjamu laman ini dengan segunung rasa di hati 🥲

0 notes
Halu Itu Rindu; Atau Kamu Itu Halu?

Rindu itu halu. Karena yang di depan mata tak kentara. Yang jauh di sana sejelas gemuruh hujan. Hingga diri seringkali khilaf, menyepelekan yang terdekat.

Kamu, yang tengah diterjang rindu tak berkesudahan. Sudahkah kamu berdoa untuknya? Jangan-jangan, setelah malam kembali naik, dan perasaanmu semakin menggila kamu jadi lupa. Percayalah rindumu akan terurai jadi benang-benang jalan yang mengantarkanmu padanya lepas doa kauantarkan atasnya.

Cukup, ya, jangan merasa resah bila rindumu tak berkesudahan. Sudah kamu coba untuk mengeluarkannya lewat hujan air mata? Yang derasnya akan alirkan gelisahmu sebab rindu yang tak terelakkan itu. Sini, aku siap mendekapmu, membiarkan kamu meluapkannya lewat air mata dalam rengkuhanku.

12 notes

Mengenangnya

Mataku sembab. Setelah berurusan dengan kenangan dari seseorang yang telah lebih dulu pergi.

0 notes

Di antara aku dan kamu kini tidaklah sesederhana masa SMP kita. Tak sekanak-kanak masa SD kita. Tak seindah masa SMA kita. Dan tak sesibuk masa kuliah kita yang masih dapat kuinterupsi langsung. Kini, aku dan kamu dihalang oleh tembok masa depan. Oleh keluargamu dan keluargaku. Oleh kekhawatiran kamu dan aku. Oleh gelisah di masa awal kehidupan yang sebenarnya ini.

Aku tak lagi memikirkan seberapa jauhnya lagi kakimu menemukan rumahku. Aku tak lagi memimpikan kerinduan-kerinduan yang dulu lekat sekali dalam buaian bawah sadar. Aku tak lagi menginterupsi untuk menengok kabar media sosialmu.

Kini, aku sibuk memikirkan nasib langkahku. Yang hingga saat ini belum kutemukan jawaban atas segala pertanyaan awal ini. Mencerna segala keadaan yang memaksaku mengenyahkan mimpi bersamamu dalam satu jajar setelah ijab sah. Yang dilema akankah kau menemukanku di antara himpitan zaman?

Nanti, akan kuceritakan kembali. Kisahku bersamamu, bila waktunya kau tiba di depan rumahku meminta pada orangtuaku atasku.

.

1 note

Why after post 3 times since early year I have just now had successed :(

0 notes
Next